HOME

Sabtu, 11 April 2020

Ramah Tamah dengan Asatidz Pascasarjana UIM



Oleh : Abu Yusuf Akhmad Ja’far

Malam begitu indah, langit madinah terang benderang. Suasana udara yang hangat dan menyenangkan.

Al-Faqir diberi amanah dari ppmi untuk mewakili temen-temen mahasiswa baru menyampaikan pesan-kesan selama proses pengurusan hingga bisa sampai di madinah.

Tentunya gemeteran berbicara di hadapan asatidz calon mejisterat dan dakatiroh. Mungkin sudah tidak asing di telinga kita.
Sebut saja,
Ust. Dr. Emha Hasan Ayatullah, MA
Ust. Emha Hasan Nasrullah, MA
Ust. Iqbal Gunawan, MA
Ust. Ariful Bahri, MA
Ust. Azmi Zarkasy, MA
Ust. Haris Hermawan, MA
Ust. Irsyad Hasan, MA
Ust. Haekal Basyarahil, MA
Ust. Musa At-Tamimy, MA
Ust. M. Izzi Masmuin, BA
Ust. Arya Bima, BA
Ust. Lutfi Setiawan, BA
dan banyak lagi yang lain. Mereka semua guru-guru ana.

Kami menyampaikan,
Diterima di madinah saya merasa sedih dan senang.
Sedih karena harus LDR sementara dengan istri. Tentu ini berat dan sangat menyakitkan. Hehe

Senang karena bisa menuntut ilmu di tempat yang ana cita-citakan semenjak Sekolah. Meskipun harus nunggu sangat lama. Bahkan mampir dulu di Negara Tetangga selama 5 tahun.

Mungkin saya tidak seperti antum semua, yang basic nya dari pondok, saya hanya dari sekolah umum biasa. Makanya ana sangat butuh bimbingan para asatidz sekalian dan teman-teman semua untuk saling suport dalam belajar dan pergi ke masjid Nabawi.

Kita harus saling tegur jika ada salah satu dari kita, futur atau malas.
Begitu juga, harus saling membantu jika salah satu diantara kita kesulitan memahami pelajaran di kelas atau ketika Talaqqi.

Saya ucapkan terima kasih kepada PPMI Madinah dan panitia penyambutan Mahasiswa Baru yang telah mencurahkan segala usaha dan tenaganya dalam membantu kami, hingga kami bisa berada di Madinah, Kota Nabi Muhammad salallahu alaihissalam

Semoga menjadi jariyah yang senantiasa mengalir terus hingga ke akhirat kelak.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para asatidz pascasarjana yang menyempatkan waktunya untuk kami, saling sharing, dan berbagi ilmu serta pengalaman.

Yang berbicara di hadapan antum ini adalah debu, yang tidak pantas sebenarnya untuk berbicara. Dalam kaidah disebutkan
إذا حضر الماء بطل التيمم
Semua para asatidz bagaikan air, sehingga tidak dibutuhkan debu. Tapi karena di minta maka dengan terpaksa kami berdiri di hadapan antum semua.

Semoga ukhuwah kita terus berjalan hingga kita pulang, tentunya dengan membawa ilmu yang manfaat dan bisa dakwah bareng-bareng.

Madinah, 28 Muharram 1441 H



0 komentar:

Posting Komentar