HOME

Kamis, 16 April 2020

PERJALANANKU SAMPAI NEGERI MESIR #6



Oleh :  Abu Yusuf Akhmad Ja'far 
(Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Univ. Al-Azhar Kairo)

Hari-hariku di L-SIA

     Setelah kuliah perdana usai pada Hari Selasa kemaren, pada Hari Rabu saya mulai memasuki Asrama Mahasiswa yang akan menjadi tempat tinggalku selama satu tahun kedepan dalam menempuh pendidikan di L-SIA. Dalam satu minggu, waktu belajar dilakukan selama 6 hari, dimulai dari hari Senin-Sabtu. Waktu belajar dalam sehari sangat padat, di mulai dari kegiatan Tahfizh yang dilakukan setelah sholat Shubuh berjama’ah di Masjid.  Kehidupan di asrama mahasiswa yang berada di wilayah Pusdiklat Dewan Da’wah begitu penuh liku-liku , rasa kebersamaan sangat erat dengan kawan-kawan seperjuangan sehingga menuntut setiap person untuk saling pengertian dalam segala aspek, disinilah diperlukannya kedewasaan dalam bersikap.


    Jadwal makan tiga kali sehari di asrama, masaknya di gilir setiap kamar. Makan satu nampang 5 orang. Satu kamar isinya 4 orang, temen-temenku satu kamar dari daerah yang berbeda, ada yang dari Madura, Batam dan Palembang. Nama kamar kami saat itu adalah kamar Hunain, tentu butuh kekompakan dari anggota kamar untuk saling tolong menolong. 

     Kelas di L-SIA terdiri dari 3 kelas ; A,B dan C. Ada sedikit perbedaan antara kelas A Dan kelas B,C. Bedanya kalau di kelas A itu para dosen menjelaskan semua pelajaran dengan bahasa arab dari semester awal hingga akhir, sedangkan kelas B,C penjelasannya dengan menggunakan translate (bahasa arab kemudian di terjemahkan) di semester awal, dan pada semester kedua mulai menggunakan bahasa arab dalam interaksi kesehariannya.

     Para dosen di L-SIA sudah ahli di bidangnya masing-masing, alumnus dalam dan luar negri, diantra dosen-dosennya :
1.      Ustadz Syarif Mahya Lubis, MA (Mudir sekaligus pengajar Nahwu dan Balaghoh) beliau alumni S1 LIPIA Jakarta dan S2 Univesitas Negeri Surakarta
2.      Ustadz Rizki Narendra, Lc (Pengajar Qira’ah dan Ta’bir) beliau Alumni Universitas Islam Madinah
3.      Ustadz Ulul Azmi, Lc (Pengajar Adab dan Sima’i) beliau Alumni S1 LIPIA Jakarta
4.      Ustadz Indra Jaya, Lc (Pengajar Aqidah dan Sharf) beliau Alumni S1 LIPIA Jakarta
5.      Ustadz Jumrani Ayana, S.Kom.I , Dipl (Pengajar Fiqh ) beliau Alumni STID Moh. Natsir dan Diploma LIPIA Jakarta
6.      Dll.
     Fungsi dari pembagian kelas tersebut adalah untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak yang belum pernah belajar bahasa arab sama sekali agar tidak langsung down ketika mendengar penjelasan dengan bahasa arab.

     Kebetulan saya masuk dalam kelas A, yang mana dalam interaksi kesehariannya menggunakan bahasa arab, hal ini membuat saya dilema, karena saya belum pernah belajar istima’ ataupun bercakap-cakap dengan bahasa arab sama sekali. Pengetahuanku tentang kosa-kata bahasa arab sangatlah minim, hampir semua penjelasan para dosen saya tidak faham. Teman-teman satu kelas saya hampir semua dari mereka lulusan pondok pesantren yang mempunyai basic yang sangat baik dalam pembelajaran bahasa arab, bahkan tidak sedikit dari mereka merupakan para huffazh Al-Qur’an. Pantaslah dalam hati ini merasa minder sama mereka, karena saya adalah orang yang baru belajar bahasa arab secara terstruktur, Akan tetapi saya tidak menyerah begitu saja, sungguh ada tantangan tersendiri, agar bisa bersaing dengan mereka dan mengejar ketinggalanku yang sangat jauh dengan mereka.

     Diawali dengan motivasi dan gairah belajar yang tinggi, siang malam saya menghafal mufrodat, membaca diktat kuliah secara terus menerus dengan rutin dan dibarengi dengan do’a di keheningan malam serta disela-sela waktu istijabah.
     Allah Ta’ala berfirman :
" واتقوا الله ويعلمكم الله "
“Bertaqwallah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian”
     Waktu terus bergulir, pelajaran demi pelajaran dilakukan, mulai dari pelajaran qira’ah, ta’bir , nahwu, sharaf , kitabah, fiqh, aqidah dll yang semula saya tidak terlalu faham, karena penjelasannya dengan bahasa arab . Berkat rahmat Allah Ta’ala saya mulai memahami pelajaran dengan baik setelah 3 bulan lamanya bergelut dengan kosa kata yang sangat ribet. Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa belajar bahasa arab itu harus bertahap dan rutin, baik itu rutin dalam menyimak, membaca , menulis dan bicara.

     Setelah 3 bulan saya belajar, banyak perubahan yang saya alami, sedikit demi sedikit saya sudah faham penjelasan dosen, sudah bisa lancar menyusun kosa kata bahasa arab untuk di ucapkan, bisa menulis lafadhz arab dengan kaidah-kaidah insya’ meskipun masih banyak kekurangannya. Hal ini merupakan nikmat yang sangat mahal harganya, membutuhkan perjuangan yang sangat extra. Kalau misalnya menengok usaha para ulama dahulu dalam belajar antara ilmu yang satu dengan yang lainnya, maka kita akan melihat diri kita ini sangatlah jauh tertinggal dari mereka. Setidaknya kita berusaha ikut jalan mereka, walaupun masih tertatih tatih.

     Minimnya interaksi dengan dunia luar sangan dibutuhkan untuk menekuni sesuatu, pada saat itu saya tidak megang Hanphone yang caggih, hanya megang Handphone jadul yang berfungsi untuk telpon, sms dan dengerin suara ngaji-ngaji, baik lewat radio maupun Mp3. Sebenarnya saya sudah punya Handphone canggih, akan tetapi saya putuskan untuk tidak membawanya saat diperantauan, dengan alasan pengen focus untuk mendalami dan memperlancar bahasa arab. Alhamdulillah dengan karunia Allah Ta’ala dengan minimnya interaksi di dunia luar atau maya (FB, BBM, TWITER, INSTAGRAM, WASTAPP, LINE) saya mampu untuk focus belajar.

     Perjalanan masih panjang, sekitar 7 bulan kedepan saya akan menyelesaikan study ku ini, rasa semangat harus tetap ada sampai akhir perjalanan menuju kesuksesan selanjutnya.


    Di sela-sela kesibukan kuliah dan murojaah, saya bersama teman-teman ada agenda refresing keluar asrama dengan mengunjungi rumah temen yang dekat dari kampus, ada 4 rumah selama setahun yang kami kunjungi. 2 di sekitaran Bekasi dan 1 lagi di Depok, saat kami ke Depok, temen-temen menyempatkan mampir dan keliling Universitas Indonesia. Sungguh sangat luas dan Indah, serta rindang di penuhi pepohonan, saying sekali banyak pemandangan yang kurang layak, jadi harus selalu menundukkan pandangan.

     Dengan berjalannya waktu akhirnya waktu ujian semester awal itu tiba, rasa harap, cemas berkumpul menjadi satu, disamping juga rasa senang karena setelah ujian saya akan liburan selama dua minggu di kampung halaman.

     Belajar, begadang, membaca, menghafal muqorror saat-saat sebelum ujian, itu semua dilakukan adalah ingin mendapatkan hasil terbaik nantinya. Ujian pun tiba, hari demi hari saya lewati dengan menegangkan, sampai pada akhirnya ujian pun selesai dan tiba saat liburan itu.
     Setelah melihat hasil ujian, Nampak rasa gembira dan terharu dalam diriku, karena saya tidak menyangka bisa mendapatkan nilai Jayyid Jiddan . Rasa syukur terus saya panjatkan kepada Allah Ta’ala, karena telah memberikan hasil yang memuaskan kapada saya. Walhamdulillah.

Liburanku selama dua minggu

     Tiket kereta sudah di tangan , asrama mulai sepi di tinggal para penghuninya hanya untuk mengisi liburan yang sangat singkat ini, rasa gembira yang begitu luar biasa saat itu, setelah 5 bulan di kota orang, akhirnya bisa pulang juga ke kota kelahiran, meskipun sangat singkat.
     
     Saat liburan,  ada temenku yang ikut ke kampung halamanku, karena dia belum merasakan pergi ke luar provinsi sebelumnya. Dia mondok hingga kuliah di Bekasi, dimana tempat dia lahir dan besar, wajarlah kalau ingin merasakan angina segar, berlibur ke pesisir Jawa.
     Temenku hanya seminggu saja nginap di rumahku, kemudian dia balik lagi ke Bekasi. Selama seminggu kita habiskan untuk jalan-jalan bertafakkur keindahan alam di Kota Batu, sekaligus mampir di salah satu tempat wisata disana yaitu Museum Angkot. Tampaknya dia senang menikmati liburan di kampungku.
     Ketika pulang ke kampung, tentu aktivitasku adalah membantu mak , itulah yang menjadi prioritas saat liburan, seperti mengatar ke pasar , menjaga toko dan lain-lain. Dan juga ikut pengajian oleh guruku Ust. Abu Ibrahim Muhammad Ali Hafidzahullah Ta’ala di Ponpes As-Sunnah dan di masjid lainnya.

    Tak terasa, waktu liburan sudah berakhir. Itu tandanya waktu berjuang dan bertempur sudah saatnya kita mulai lagi.
     Dua hari sebelum balik, saya pergi ke Kantor Imigrasi di Malang untuk membuat Paspor, tentunya tidak mulus begitu saja, harus bolak-balik selama dua hari baru selesai, saat interview ditanya, buat apa paspor? Saya jawab, buat persyaratan daftar kuliah di Universitas Islam Madinah. Meskipun begitu, petugas tidak langsung percaya begitu saja, beliau minta bukti. Dengan terpaksa saya keluar sejenak untuk cai tempat printer untuk mencetak surat keterangan dari Universitas Islam Madinah. Akhirnya ketemu juga setelah muter-muter selama setengah jam. Setelah petugas percaya, Alhamdulillah mulia di proses data-datanya, itupun jadinya dua minggu setelahnya, sehingga nanti akan di wakilkan oleh orang tuaku atau kakakku untuk mengambilnya.

     Selain buat paspor, saya juga buat SKCK baru di Polres dekat rumah buat persiapan daftar kuliah selanjutnya. Alhamdulillah semua urusan lancar.

     Dengan bekal seadanya hingga beberapa bulan ke depan, saya kembali lagi ke kampus tercinta dengan menggunakan kereta api, kendaraan favorit untuk pergi ke rantau.
     Semester dua di mulai, tentunya pelajaran akan semakin berat dan banyak hal-hal baru yang akan saya dapat.

Simak di episode berikutnya ya !!

0 komentar:

Posting Komentar