HOME

Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Januari 2022

Belajar dari Kisah Abu Thalhah

 



oleh : Abu Yusuf Akhmad Ja'far

Siapakah Abu Thalhah? Beliau adalah Zaid bin Sahl bin Al-Aswad bin Harram Al-Anshori An-Najjari Al-Madani, beliau salah satu pembesar sahabat Rasulullah Salallahu'alaihissalam, beliau lebih di kenal dengan kunnyahnya. Beliau termasuk sahabat yang ikut dalam baiat Aqobah serta mengikuti perang badar.

Dalam Sebuah hadist yang shohih, dari Anas bin Malik berkata : Beliau (Abu Thalhah) adalah seorang penduduk Madinah yang kaya raya, beliau mempunyai kebun kurma yang sangat beliau cintai, kebun tersebut diberi nama " Bairuhaa' ". kebetulan kebun itu terletak berhadapan dengan Masjid Nabawi (di arah kiblatnya), dan Rasulullah Salallahu'alaihissalam sering masuk ke dalam kebun tersebut, meminum air yang jernih dari kebun itu. Lalu Anas berkata : Tatkala turun Ayat
لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون
" Kamu tidak akan memperoleh kebaikan, sampai kamu menginfakkan sesuatu yang kamu cintai "
Maka Abu Thalhah berdiri ke hadapan Rasulullah seraya berkata, Wahai Rasulullah Salallahu'alaihissalam Sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman :
لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون
" Kamu tidak akan memperoleh kebaikan, sampai kamu menginfakkan sesuatu yang kamu cintai "
Dan harta yang paling aku cintai adalah Bairuhaa', aku sedekah kan untuk Allah, aku berharap kebaikan dari sedekah itu dan pahala di sisi Allah. Gunakanlah Ya Rasulullah Salallahu'alaihissalam untuk kebaikan di jalan Allah.

Maka Rasulullah bersabda : '' Sungguh luar biasa, itu harta yang beruntung, itu harta yang beruntung, sungguh aku telah mendengar apa yang kau katakan, dan aku (Rasulullah) berpendapat jadikan kebun itu sebuah penyambung silaturahmi dan sedekah.
Maka Abu Thalhah melakukan apa yang disarankan Rasulullah, dan membagi kebun tersebut kepada kerabat dekatnya.
( HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah yang kita bisa ambil dari kisah diatas? Keimanan, Iya...

Sungguh Iman yang sangat luar biasa, Abu Thalhah sama sekali tidak pikir panjang untuk meraih kebaikan dari Allah Ta'ala. Yaitu menyedekahkan sesuatu yang sangat ia cintai, walaupun itu sangat berharga bagi dirinya, akan tetapi itu hanya sebatas di dunia, maka Abu Thalhah tidak ingin apa yang ia cintai hanya ia miliki sebatas di dunia saja, akan tetapi bisa bermanfaat di akhirat kelak, dengan cara menyedekahkannya.

Pelajaran yang lain yang bisa kita ambil dari kisah ini, sangat di sukai bersedakah dengan apa-apa yang masih bagus, layak pakai. misal, baju layak pakai, ataupun yang lain. Dan sangat tidak disukai sedekah dengan sesuatu yang buruk, misal : baju yang rusak (tidak layak pakai) , ataupun yang lainnya.

Semoga kisah tadi bisa kita amalkan dengan seksama, semata-mata hanya menjalankan perintah Allah Ta'ala.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 01 Januari 2022

SEJARAH ILMU MUSHTOLAH HADITS



Merupakan sebuah kenikmatan diberi kesempatan mempelajari ilmu hadist, sebuah ilmu yang mulia.

Kitab guru saya dibawah ini salah satu sumbangsih beliau untuk umat agar mempermudah para pembaca nya mengenal Ilmu Mustolah Hadist dari awalnya. Termasuk saya penikmat karya-karya beliau yang mudah dicerna dan dimengerti, karena beliau tidak suka panjang lebar dalam membahas sesuatu, karena beliau tau betul bahwa kitab yang beliau tulis adalah untuk pemula.



Beliau menyebutkan dalam tulisan-tulisan beliau di semua cabang ilmu '' Mabadi Asyaroh (Awal mula mempelajari sesuatu dimulai dari mengenal 10 hal) '', beliau menukil perkataan Ash-Shobban, seorang Ulama dari Kairo yang mempunyai karya yang luar biasa diantaranya '' Hasyiyah Ala Syarh Al-Asymuni Ala Alfiyah '' .
Salah satu dari Mabadi Asyaroh, yaitu siapa peletak Ilmu Mustolah Hadist, beliau menyebutkan bahwa ilmu hadist itu dicetuskan oleh ulama besar semisal Imam Syafi'i, Bukhari, Muslim dll akan tetapi belum ada yang meletakkannya dalam sebuah kitab tersendiri. Akhir abad ketiga baru ada yang meletakkan ilmu mushtolah hadist ini dalam sebuah kitab tersendiri dengan kitab yang berjudul '' Al-Muhaddist Al-Fashil baina Ar-Rowi wa Al-Waa'i '' Versi cetakan terbaru di Dar Imam Bukhari Qatar, dengan harga 250 rb Cover warna merah dan hitam dengan halaman yang cukup tebal - karya Qodhi Abu Muhammad Hasan bin Khallad Ar-Romahurmuzy yang wafat tahun 360 H.

Penulis kitab dibawah ini memberikan corak yang berbeda dalam penulisan-penulisan kitab Mustolah Hadist sebelumnya, salah satunya yaitu beliau memberikan soal dalam setiap pembahasan untuk pemperkuat pemahaman pembaca nya.
Semoga Allah memberikan keberkahan kepada penulis kitab ini, yaitu guru saya Syaikh Dr. Kholid Mahmud Al-Juhany Hafidzahullahu Ta'ala


_Abu Yusuf Akhmad Ja'far_

Kisah Ibnu Daqiq Al-'Id

 


Imam Ghozali Rahimahullahu Ta'ala mempunyai 3 kitab saling berurutan untuk meringkas Nihayatul Mathlab karya Imam Al Juwainy, yang pertama Al-Basith, kemudian Al Washit dan selanjutnya Al-Wajiz.
Imam Ar-Rofi'i mensyarah Kitab Al-Wajiz yang dikenal dengan nama Al-Aziz Syarh Kitab Al Wajiz atau masyhur dengan sebutan Asy-Syarhu Al-Kabiir (Versi Cetakan DKI 13 jilid)
Ibnu Daqiq Al-'Id (beliau hidup di Abad ke 7) membeli kitab tersebut sebesar 1000 Dirham (setara 88 jt) dan beliau mengkhtamkannya selama setahun penuh. Uniknya selama setahun itu beliau hanya melakukan hal-hal yang wajib saja, semisal sholat lima waktu beliau kerjakan tanpa melakukan sholat sunnah-sunnah yang lain semisal Qiyam lail dll. Setelah menyelesaikan sholat fardhu beliau belajar kitab Fathul Aziz begitu seterusnya sampai setahun penuh.
Ibnu Daqiq Al-'Id menjadi seorang Alim bermadzhab Syafi'i pada zamannya.
Rahimahullahu Ta'ala
(Faidah dari kajian Silsilah Adz-Dzahabiyyah Kitab Madzhab Asy-Syafi'i di Masjid Al-Azhar Kairo).

Pelajaran yang bisa dipetik :

Demi ilmu puluhan juta dikorbankan dan betapa istiqomahnya beliau dalam mempelajari satu kitab berjilid jilid sampai selesai.
Coba bandingkan dengan kita, kitab harganya 45 rb masih di tawar. Allahul Mustaan


_Abu Yusuf Akhmad Ja'far_

KISAH NYATA SYAIKH BIN BAZ



Pada pengajian tadi, tatkala membahas kitab Syaikh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah " Al-'Aqidah Al-Washitiyah", Syaikhuna menceritakan tentang harapan gurunya yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu.
Beliau berangan-angan agar penglihatannya kembali lagi untuk melihat satu hal, yaitu Onta.
Karena Allah Ta'ala berfirman :
أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الإِبِلِ كَيْفَ خلقت
" Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan" (QS. Al-Ghosiyah : 17 )

Tambahan dari kami :
Lihatlah seorang Alim, angan-angan nya luar biasa. Beliau tidak berangan-angan melihat istrinya, anaknya dan kesenangan yang lain dari megahnya dunia, tapi beliau berkeinginan mentadabburi ayat-ayat Allah yang diformalkan dalam Al-Qur'an.
Adapun kita diberi penglihatan yang bagus tapi jarang sekali memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah. Astaghfirullah
Ampuni kami yang banyak lali dari apa yang telah egkau perintahkan...


Kairo, 25 Muharram 1439 H


** Abu Yusuf Akhmad Ja'far**

Jumat, 17 April 2020

PERJALANANKU SAMPAI NEGERI MESIR #7




Masuk Semester 2 di LSIA

           Di LSIA, waktu belajarnya hanya satu tahun yaitu 2 semester, setara dengan Diplom 1.
     Tidak banyak yang berubah di semester dua, hanya saja muqoror berganti dengan level berikutnya. Kamarku di asrama juga pindah, kali ini saya sekamar dengan teman-teman dari Lombok, Bekasi dan Palembang. 

     Di kamarku saat itu lumayan seram, karena temen sekamarku sering kesurupan sehingga bikin heboh se asrama bahkan musyrif ikut kualahan menanganinya. Memang sudah sejak semester satu dia begitu, dan berlanjut di semester dua. Kalau sudah mulai gejalanya, pasti dia meraung-raung.
     Beberapa kali saya membacakan al-Qur’an padanya, bahkan sempat di pukul. Rasanya sakit sekali kala itu. Sungguh aneh, salah satu sebab dia begitu karena di podoknya dulu suka mengamalkan dzikir dari gurunya yang tidak sesaui tuntunan dan dia masih menyimpan benda-benda keramat di kamarnya. Setelah temen-temen mengetahui hal ini, mereka segera membuang barang-barang itu.

     Ada pelajaran di kelas yang kurang saya sukai , yaitu Khot Arabi. Alhasil sampai sekarang tulisan saya jelek. Pelajaran lainnya semakin seru, Ust. Syarif saat itu mengajar nahwu dari kitab Al-Ajurumiyah selalu membawakan angina segar berupa faidah-faidah baru, Alfiyah Ibnu Malik yang beliu hafal seakan-akan membuat kami sekelas takjub. Beliau sangat serius kalau ngajar, bahkan tak segan menggebrak meja kalau ada yang tidur atau tidak memperhatikan materi yang beliau sampaikan, namun sesekali di bumbui pembahasan pernikahan dan poligami, yang membuat isi kelas menjadi rame dengan gelak tawa.

     Berbeda dengan Ust. Rizky Narendra, beliau ngajar kami Qiroah dan Ta’bir. Sangat anti dengan pembahasan wanita dan pernikahan di kelas, selalu beliau mengalihkan ke pembahsan yang berkaitan dengan materi. Sesekali beliau bercerita tentang siroh Nabi dan Ulama, karena menurut pengakuan beliau bahwa beliau sudah mengkhatamkan Kitab Siyar A’lami Nubala karya Imam Adz-Dzahabi yang berjilid-jilid itu sebanyak 3 kali selama menjadi mahasiswa di Madinah. Pantes saja beliau sangat hafal dengan kisah-kisah biografi para ulama yang di tuliskan Imam Adz-Dzahabi.
     Beliau termasuk mahasiswa LSIA terbaik di angkatannya, beliau dari sekolah umum. Tapi semangatnya mengalahkan anak-anak yang dari pesantren sehingga Allah bukakan pintu ilmu untuk beliau, setelah lulus LSIA beliau melanjutkan ke Ar-Royyah Sukabumi, dan termasuk angkatan awal-awal. Disana beliau bisa menghfal Al-Qur’an 30 juz dengan mutqin, sehingga setelah lulus beliau dapat panggilan untuk melanjutkan kuliah ke Univ. Islam Madinah.
     Beliau lah salah satu inspirasi saya ketika itu, semoga saya bisa meniru beliau dalam perjuangannya menuntut ilmu, hingga akhirnya nanti bisa kuliah di Kota Madinah, tempat idaman seluruh pelajar muslim.

         Ust. Azmy salah satu dosen yang sangat kalem, penyabar dan murah senyum. Pembawaannya yang kalem menjadi ciri khas tersendiri. Bukan hanya itu, beliau selalu berpakaian rapi sehingga wibawanya selalu terjaga.

     Pelajaran Reading Couse mengajarkan banyak hal bagi saya, terutama tulis menulis. Dari situlah bibit-bibit bakat menulis saya mulia terasah. Menghabiskan waktu membaca, menghafal dan murojaah. Sungguh nikmat yang luar biasa.

     Jujur saja, saat semester dua saya membawa tablet android ke asrama, tidak terlarang dari pihak asrama. Tujuan utamanya sih, mencari info pendaftaran kampus-kampus setelah lulus nanti. Memang susah membagi waktu dengan adanya internet, itulah yang saya alami. Ada positif dan negatifnya, tergantung bagaimana kita dalam memanfaatkannya.

     Di awal bulan Januari mendapat pengumuman bahwa Universitas Islam Madinah membuka tes Muqobalah di Darunnajah Jakarta, alhamdullilah berkas yang tahun lalu sudah ada dan telah di perbarui dengan nomor paspor yang sudah saya buat saaat liburan kemaren. Dengan bekal roqm thalab saya berangkat kesana sendirian, karena temen-temen saat itu belum siap berkas apa-apa, jadi tidak ada yang ikut daftar. Alhamdulillah saya sudah siapkan berkas sejak setahun lalu, jadi kapanpun ada pendaftaran muqobalah, saya selalu siap.
     Berliku mencari alamat Pondok Pesantren Darunnajah, naik angkot beberapa kali akhirnya ketemu juga. Saya nginep dua hari disana, pesertanya membludak banyak sekali, sehingga muqobalah di ganti dengan tes tulis di aula yang sangat besar. Alhamdulillah bisa jawab dengan lancar.

      Ikhtiyar sudah kita lakukan tinggal menunggu hasil. Setelah itu saya balik lagi ke asrama untuk melanjutkan hari-hari biasanya.

     Setiap Sabtu malam ada latihan Panca Bela, semacam pencak silat begitulah. Jujur saja saya kurang minat dalam mengikutinya. Tapi karen wajib bagi setiap mahasiswa untuk ikut, ya terpaksa dengan setengah hati mengikutinya. Sesekali bolos dengan temen-temen, sehingga Ust. Ujang Habibi salah satu ketua asrama memarahi kami semua. Lika-liku belajar demikian, ada saatnya dimarahi karena melanggar.

     Kajian setiap hari Selasa selepas sholat subuh, dengan pemateri Ust. Dr. Ahmad Zen An-Najah Hafidzahullah Ta’ala (Lulusan Univ. Islam Madinah dan Al-Azhar Kairo). Wajib bagi mahasiswa asram untuk ikut, meskipun dengan rasa kantuk. Kajian itu sudah berlangsung dari semester 1, berlanjut di semester dua. Kitab yang di kaji adalah Lum’atul I’tiqod karya Ibnu Qudamah tentang aqidah , dan Kitab Muqoddimah fi Tafsir karya Ibnu Taimiyyah. Alhamdulillah selesai dua kitab itu, meskipun di bahas seminggu sekali. Dan jujur saja, saat itu saya belum terlalu memahami alur kajiannya. Atau karena memang saya kurang pinter saja kali ya, tapi ada sedikit faidah yang saya ambil berupa pengenalan terhadap kitab-kitab ulama dan mengkajinya.

     Setiap bulan saya selalu saja punya hutang, si Jon yang selalu menghutangi saya saat itu. Memang kita sangat akrab saat itu, beiau dari Kota Solok Sumatra Barat. Uang dari umik selalu tidak cukup dalam sebulan. Umik memberi 500 ribu setiap bulannya, buat iuran makan di asrama 275 rb, sisa 225 rb untuk sebulan, belum lagi beli paket internet 50 rb . sisanya buat jajan di kantin dan beli buku-buku. Pantas saja selalu kurang, sehingga saya berhutang kepada si Jon, tidak banyak sih 100-150 rb saja, dan selalu saya bayar setiap ada kiriman dari umik, meskipun setelah itu hutang lagi. Kalau bahasa kerennya gali lubang tutup lubang. Begitulah realita kehidupan yang saya jalani, harus hemat di perantauan, dengan bekal secukupnya.

     Membeli buku, itulah hobi saya. Sehingga setiap bulan selalu saya sisikan uang dari umik untuk membeli buku, terutama buku favorit saya adalah tulisan Ust. Yazid Abdul Qodir Jawas Hafidzahullah Ta’ala, setiap beli buku berusaha say abaca hingga tuntas dan banyak faidah yang saya dapat. Suatu saat ada Book Fair di Senayan Jakarta, maka temen-teman sepakat untuk pergi kesana rombongan, meskipun tidak beli, minimal mempunyai pengalaman sekaligus jalan-jalan melepas penat di dalam asrama terus menerus. Saat itu saya borong buku, kebetulan memang saya ada sedikit tabungan khusus untuk Book Fair, kitab-kitab berbahasa arab yang saya beli, ya meskipun belum lancer bacanya, tapi suatu saat nanti pasti bisa in syaa Allah.

     Main sepak bola, sebenernya itu hobi dari dulu bahkan saya hafal pemain kelas dunia, bahkan yang di dalam negripun hafal. Tapi saat kuliah rasanya malas sekali untuk main sepak bola, sehingga jarang-jarang ikut main hanya sesekali saja, padahal temen-temen yang lain rutin setiap sore jika tidak ada jam kuliah selalu sepak bola.

     Bulan demi bulan sudah saya lalui, banyak kosa kata yang saya hafal dan ketahui dari belajar kitab Silsilah Lughoh Arobiyah 1-4. Dalam setiap babnya selalu ada tambahan kosa kata baru, sehingga memeberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya, bahwa bahasa arab itu sangatlah luas. Apalagi di semester dua ada pelajaran Balaghoh, itulah pertama kali saya belajar balaghoh. Betapa indah bahasa Al-Qur’an tersebut dipenuhi dengan makna-makna yang luar biasa.

     Sudah memasuki bulan Rajab, itu tandanya sebentar lagi lulus. Kemanakah selanjutnya saya menuntut ilmu? Itulah yang menjadi fikiran saat itu. LIPIA Jakarta dan Ar-Royyah Sukabumi menjadi tujuan utama, pembukaan dan tesnya juga sudah di buka akhir bulan ini.
     Kami berangkat bareng-bareng dengan surat rekomendasi dari ust-ust di LSIA, untuk daftar ke Lipia. Saat itu kami dan temen-temen nginap di Majid Al-Ikhlas Jati Padang, masjid itu tidaklah asing bagi mahasiswa Lipia. Karena selalu menjadi tempat penginapan saat-saat pendaftaran dan tes Lipia.
     Dengan penuh lika-likunya, kami ikut tes yang ke dua kalinya di Lipia, setelah sebelumnya gagal. Dengan penuh keyakinan akan lulus, maka saya berusaha mengerjakan soal-soal ujian dengan baik. Setelah seselai tes, maka kami pulang ke asrama bersama temen-temen.
     Dag-dig dug selama seminggu mananti hasil, dan pada akhirnya kenyataan pahit yang harus saya terima. Saya gagal untuk masuk lipia untuk yang kedua kalinya. Sedih sekali saat itu, Alhamdulillah temen akrabku si Jon diterima dan beberapa temen lain.

     Tapi semangat tak padam, temen-temen yang tidak diterima memutuskan berangkat ke Sukabumi untuk ikut tes masuk ke Ar-Royyah. Kami berangkat dari terminal Bekasi menuju Sukabumi, sekitar 6 jam perjalanan saat itu, karena macet.
     Malam-malam sampai juga di Ar-Royyah Sukabumi, dingin sekali karena memang di daerah pegunungan. Nampak hening suasananya. Dua hari kami disana untuk mengikuti tes, saya ambil program S1 sedangkan teman-teman ambil program D2. Dengan segala kemampuan yang ada, alhamdullilah kami mengiktu tes dengan lancar.
     Perjalanan dari Sukabumi ke Bekasi penuh dengan liku, bus penuh sekali. Sehingga kami harus berdiri selama 6 jam perjalanan, sangat capek sekali rasanya. Itulah salah satu perjuangan kami untuk mencari tempat berlabuh dalam menuntut ilmu, meskipun perjuangan itu tidak seberapa susahnya, tapi membekas dalam hati kami bahwa menuntut ilmu harus penuh perjuangan. Dan betapa takjubnya saya dengan para ulama salaf dahulu yang rela berjalan hingga berbulan-bulan demi menuntut ilmu sehingga perjuangan yang kami lakukan ini sangatlah kerdil dibanding perjuangan mereka. Masya Allah.

     Setelah berkutat dengan tes dan tes, saatnya kami focus untuk ujian akhir di LSIA. Tak terasa sudah memasuki bulan Sya’ban, itu tandanya beberapa minggu lagi kami akan lulus.
     Belajar dan menghafal di malam-malam ujian, untuk meraih hasil yang terbaik. Tibalah waktunya ujian demia ujian, hari demi hari terlewati, mata kuliah demi mata kuliah juga terlewati. Alhamdulillah, usai juga ujian semester dua, sudah saatnya pulang kampung.
     Sebelum pulang kampung, saya bersama teman teman sempat mengikuti tes di Hufadzussunnah di Jakarta (Ijazahnya Ikut Lipia Jarak Jauh dari Riyadh) dan ikut tes di STID Muhammad Nastir (langsung semester 3).

     Tiba-tiba hp bergetar , setelah ku lihat ternyata pesan singkat dari teman lama asal Lampung yang sama-sama pernah ikut pelatihan tes Lipia di Paciran, Lamongan satu tahun lalu, beliau memberitahukan tentang seleksi di Univeritas Al-Azhar Kairo. Beberapa waktu setelah kabar tersebut, ku coba buka-buka internet untuk mendaftar, awalnya itu hanya iseng, karena rasa ingin tahu yang sangat tentang universitas islam tertua di dunia ini. Setelah selesai semuanya, aku hanya menunggu waktu seleksi , kebetulan aku memilih tempat seleksi di Kota Apel Malang, yang kebetulan dekat dengan kota kelahiranku.
     Alhamdulillah nilai akhir semester dua sudah keluar, dan saya meraih nilai Mumtaz dan termasuk salah satu yang terbaik di kelas. Alhamdulillah atas karunia Allah sehingga meraih hasil yang terbaik.
    
Lalu penguman-penguman hasil tes bagaimana ? simak serial berikutnya.


Kamis, 16 April 2020

PERJALANANKU SAMPAI NEGERI MESIR #6



Oleh :  Abu Yusuf Akhmad Ja'far 
(Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Univ. Al-Azhar Kairo)

Hari-hariku di L-SIA

     Setelah kuliah perdana usai pada Hari Selasa kemaren, pada Hari Rabu saya mulai memasuki Asrama Mahasiswa yang akan menjadi tempat tinggalku selama satu tahun kedepan dalam menempuh pendidikan di L-SIA. Dalam satu minggu, waktu belajar dilakukan selama 6 hari, dimulai dari hari Senin-Sabtu. Waktu belajar dalam sehari sangat padat, di mulai dari kegiatan Tahfizh yang dilakukan setelah sholat Shubuh berjama’ah di Masjid.  Kehidupan di asrama mahasiswa yang berada di wilayah Pusdiklat Dewan Da’wah begitu penuh liku-liku , rasa kebersamaan sangat erat dengan kawan-kawan seperjuangan sehingga menuntut setiap person untuk saling pengertian dalam segala aspek, disinilah diperlukannya kedewasaan dalam bersikap.


    Jadwal makan tiga kali sehari di asrama, masaknya di gilir setiap kamar. Makan satu nampang 5 orang. Satu kamar isinya 4 orang, temen-temenku satu kamar dari daerah yang berbeda, ada yang dari Madura, Batam dan Palembang. Nama kamar kami saat itu adalah kamar Hunain, tentu butuh kekompakan dari anggota kamar untuk saling tolong menolong. 

     Kelas di L-SIA terdiri dari 3 kelas ; A,B dan C. Ada sedikit perbedaan antara kelas A Dan kelas B,C. Bedanya kalau di kelas A itu para dosen menjelaskan semua pelajaran dengan bahasa arab dari semester awal hingga akhir, sedangkan kelas B,C penjelasannya dengan menggunakan translate (bahasa arab kemudian di terjemahkan) di semester awal, dan pada semester kedua mulai menggunakan bahasa arab dalam interaksi kesehariannya.

     Para dosen di L-SIA sudah ahli di bidangnya masing-masing, alumnus dalam dan luar negri, diantra dosen-dosennya :
1.      Ustadz Syarif Mahya Lubis, MA (Mudir sekaligus pengajar Nahwu dan Balaghoh) beliau alumni S1 LIPIA Jakarta dan S2 Univesitas Negeri Surakarta
2.      Ustadz Rizki Narendra, Lc (Pengajar Qira’ah dan Ta’bir) beliau Alumni Universitas Islam Madinah
3.      Ustadz Ulul Azmi, Lc (Pengajar Adab dan Sima’i) beliau Alumni S1 LIPIA Jakarta
4.      Ustadz Indra Jaya, Lc (Pengajar Aqidah dan Sharf) beliau Alumni S1 LIPIA Jakarta
5.      Ustadz Jumrani Ayana, S.Kom.I , Dipl (Pengajar Fiqh ) beliau Alumni STID Moh. Natsir dan Diploma LIPIA Jakarta
6.      Dll.
     Fungsi dari pembagian kelas tersebut adalah untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak yang belum pernah belajar bahasa arab sama sekali agar tidak langsung down ketika mendengar penjelasan dengan bahasa arab.

     Kebetulan saya masuk dalam kelas A, yang mana dalam interaksi kesehariannya menggunakan bahasa arab, hal ini membuat saya dilema, karena saya belum pernah belajar istima’ ataupun bercakap-cakap dengan bahasa arab sama sekali. Pengetahuanku tentang kosa-kata bahasa arab sangatlah minim, hampir semua penjelasan para dosen saya tidak faham. Teman-teman satu kelas saya hampir semua dari mereka lulusan pondok pesantren yang mempunyai basic yang sangat baik dalam pembelajaran bahasa arab, bahkan tidak sedikit dari mereka merupakan para huffazh Al-Qur’an. Pantaslah dalam hati ini merasa minder sama mereka, karena saya adalah orang yang baru belajar bahasa arab secara terstruktur, Akan tetapi saya tidak menyerah begitu saja, sungguh ada tantangan tersendiri, agar bisa bersaing dengan mereka dan mengejar ketinggalanku yang sangat jauh dengan mereka.

     Diawali dengan motivasi dan gairah belajar yang tinggi, siang malam saya menghafal mufrodat, membaca diktat kuliah secara terus menerus dengan rutin dan dibarengi dengan do’a di keheningan malam serta disela-sela waktu istijabah.
     Allah Ta’ala berfirman :
" واتقوا الله ويعلمكم الله "
“Bertaqwallah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian”
     Waktu terus bergulir, pelajaran demi pelajaran dilakukan, mulai dari pelajaran qira’ah, ta’bir , nahwu, sharaf , kitabah, fiqh, aqidah dll yang semula saya tidak terlalu faham, karena penjelasannya dengan bahasa arab . Berkat rahmat Allah Ta’ala saya mulai memahami pelajaran dengan baik setelah 3 bulan lamanya bergelut dengan kosa kata yang sangat ribet. Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa belajar bahasa arab itu harus bertahap dan rutin, baik itu rutin dalam menyimak, membaca , menulis dan bicara.

     Setelah 3 bulan saya belajar, banyak perubahan yang saya alami, sedikit demi sedikit saya sudah faham penjelasan dosen, sudah bisa lancar menyusun kosa kata bahasa arab untuk di ucapkan, bisa menulis lafadhz arab dengan kaidah-kaidah insya’ meskipun masih banyak kekurangannya. Hal ini merupakan nikmat yang sangat mahal harganya, membutuhkan perjuangan yang sangat extra. Kalau misalnya menengok usaha para ulama dahulu dalam belajar antara ilmu yang satu dengan yang lainnya, maka kita akan melihat diri kita ini sangatlah jauh tertinggal dari mereka. Setidaknya kita berusaha ikut jalan mereka, walaupun masih tertatih tatih.

     Minimnya interaksi dengan dunia luar sangan dibutuhkan untuk menekuni sesuatu, pada saat itu saya tidak megang Hanphone yang caggih, hanya megang Handphone jadul yang berfungsi untuk telpon, sms dan dengerin suara ngaji-ngaji, baik lewat radio maupun Mp3. Sebenarnya saya sudah punya Handphone canggih, akan tetapi saya putuskan untuk tidak membawanya saat diperantauan, dengan alasan pengen focus untuk mendalami dan memperlancar bahasa arab. Alhamdulillah dengan karunia Allah Ta’ala dengan minimnya interaksi di dunia luar atau maya (FB, BBM, TWITER, INSTAGRAM, WASTAPP, LINE) saya mampu untuk focus belajar.

     Perjalanan masih panjang, sekitar 7 bulan kedepan saya akan menyelesaikan study ku ini, rasa semangat harus tetap ada sampai akhir perjalanan menuju kesuksesan selanjutnya.


    Di sela-sela kesibukan kuliah dan murojaah, saya bersama teman-teman ada agenda refresing keluar asrama dengan mengunjungi rumah temen yang dekat dari kampus, ada 4 rumah selama setahun yang kami kunjungi. 2 di sekitaran Bekasi dan 1 lagi di Depok, saat kami ke Depok, temen-temen menyempatkan mampir dan keliling Universitas Indonesia. Sungguh sangat luas dan Indah, serta rindang di penuhi pepohonan, saying sekali banyak pemandangan yang kurang layak, jadi harus selalu menundukkan pandangan.

     Dengan berjalannya waktu akhirnya waktu ujian semester awal itu tiba, rasa harap, cemas berkumpul menjadi satu, disamping juga rasa senang karena setelah ujian saya akan liburan selama dua minggu di kampung halaman.

     Belajar, begadang, membaca, menghafal muqorror saat-saat sebelum ujian, itu semua dilakukan adalah ingin mendapatkan hasil terbaik nantinya. Ujian pun tiba, hari demi hari saya lewati dengan menegangkan, sampai pada akhirnya ujian pun selesai dan tiba saat liburan itu.
     Setelah melihat hasil ujian, Nampak rasa gembira dan terharu dalam diriku, karena saya tidak menyangka bisa mendapatkan nilai Jayyid Jiddan . Rasa syukur terus saya panjatkan kepada Allah Ta’ala, karena telah memberikan hasil yang memuaskan kapada saya. Walhamdulillah.

Liburanku selama dua minggu

     Tiket kereta sudah di tangan , asrama mulai sepi di tinggal para penghuninya hanya untuk mengisi liburan yang sangat singkat ini, rasa gembira yang begitu luar biasa saat itu, setelah 5 bulan di kota orang, akhirnya bisa pulang juga ke kota kelahiran, meskipun sangat singkat.
     
     Saat liburan,  ada temenku yang ikut ke kampung halamanku, karena dia belum merasakan pergi ke luar provinsi sebelumnya. Dia mondok hingga kuliah di Bekasi, dimana tempat dia lahir dan besar, wajarlah kalau ingin merasakan angina segar, berlibur ke pesisir Jawa.
     Temenku hanya seminggu saja nginap di rumahku, kemudian dia balik lagi ke Bekasi. Selama seminggu kita habiskan untuk jalan-jalan bertafakkur keindahan alam di Kota Batu, sekaligus mampir di salah satu tempat wisata disana yaitu Museum Angkot. Tampaknya dia senang menikmati liburan di kampungku.
     Ketika pulang ke kampung, tentu aktivitasku adalah membantu mak , itulah yang menjadi prioritas saat liburan, seperti mengatar ke pasar , menjaga toko dan lain-lain. Dan juga ikut pengajian oleh guruku Ust. Abu Ibrahim Muhammad Ali Hafidzahullah Ta’ala di Ponpes As-Sunnah dan di masjid lainnya.

    Tak terasa, waktu liburan sudah berakhir. Itu tandanya waktu berjuang dan bertempur sudah saatnya kita mulai lagi.
     Dua hari sebelum balik, saya pergi ke Kantor Imigrasi di Malang untuk membuat Paspor, tentunya tidak mulus begitu saja, harus bolak-balik selama dua hari baru selesai, saat interview ditanya, buat apa paspor? Saya jawab, buat persyaratan daftar kuliah di Universitas Islam Madinah. Meskipun begitu, petugas tidak langsung percaya begitu saja, beliau minta bukti. Dengan terpaksa saya keluar sejenak untuk cai tempat printer untuk mencetak surat keterangan dari Universitas Islam Madinah. Akhirnya ketemu juga setelah muter-muter selama setengah jam. Setelah petugas percaya, Alhamdulillah mulia di proses data-datanya, itupun jadinya dua minggu setelahnya, sehingga nanti akan di wakilkan oleh orang tuaku atau kakakku untuk mengambilnya.

     Selain buat paspor, saya juga buat SKCK baru di Polres dekat rumah buat persiapan daftar kuliah selanjutnya. Alhamdulillah semua urusan lancar.

     Dengan bekal seadanya hingga beberapa bulan ke depan, saya kembali lagi ke kampus tercinta dengan menggunakan kereta api, kendaraan favorit untuk pergi ke rantau.
     Semester dua di mulai, tentunya pelajaran akan semakin berat dan banyak hal-hal baru yang akan saya dapat.

Simak di episode berikutnya ya !!

Sabtu, 02 Desember 2017

Langit Madinah Gelap Seketika


Oleh : Abu Yusuf Akhmad Ja'far
Pada waktu pagi di hari Senin, (saat itu giliran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bermalam di rumahnya Aisyah Radhiyallahu Anha). Nabi membuka kelambu kamarnya lalu melihat ke arah mereka , kemudian tersenyum dan tertawa kecil, pada saat itu Abu Bakr yang menjadi imam sholat subuh. Dan secara otomatis, Abu Bakar mundur ke belakang, karena Abu Bakar menyangka bahwa Nabi akan keluar dari kamarnya lalu mengimamipara sahabatnya, tapi Nabi memberikan isyarat agar Abu Bakar meneruskan untuk jadi imam, lalu Nabi pun masuk lagi ke dalam kamar dengan menutup kembali kelambu yang tadi disingkapnya.
Pada hari itu juga, Nabi memanggil putrinya Fatimah, lalu berbincanglah keduanya, saat Nabi berbicara di awal pembicaraan maka Fatimah menangis, kemudian di pembicaraan kedua Fatimah tertawa.
Asiyah bertanya kepada Fitimah tentang perihal percakapannya dengan Abinya, kenapa dia kok awalnya Nangis, lalu yang kedua dia tertawa? Maka Fitimah pun menjawab : Bahwa Nabi akan meninggal pada sakitnya saat ini, maka aku nangis mendengar kabar itu, lalu beliau bilang lagi bahwa akulah yang pertama dari keluarganya yang menyusul beliau, maka aku tersenyum bahagia dan beliau juga mengabarkan kepadaku bahwa aku adalah pemimpin wanita seluruhnya. 
Fatimah melihat bahwa sakit beliau bertambah parah, lalu beliau salallahu Alaihissalam berkata : 
ليس على أبيك كرب بعد اليوم 
" Setelah ini Abimu tidak akan merasa sakit lagi" , Lalu Nabi memanggil cucunya Hasan dan Husain kemudian mencium keduanya dan beliau pun memanggil semua istrinya untuk dinasehati di detik-detik terakhir nya di dunia.

Efek dari racun yang dulu pernah di makan Nabi, yang mana racun itu diberikan kepada Nabi oleh seorang wanita saat itu tanpa sepengetahuan Nabi, dan sampai saat itu Nabi merasakan bahwa racun itu sangatlah membekas di dalam tubuhnya, dan Nabipun merasa sangat kesakitan.
Beberapa perkataan di detik-detik akhir beliau di dunia ;
لعنة الله على اليهود و النصارى ، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد 
" Semoga Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid (tempat beribadah) " 
لا يبقين دينان بأرض العرب 
" Tidak akan tersisa dua agama itu di Jazirah Arab"

Lalu beliau mengatakan :
الصلاة، الصلاة، و ما ملكت أيمانكم 
" (Perhatikan masalah) Sholat, Sholat, dan budak-budak yang kalian miliki"

Pada saat itu Nabi berada dipangkuan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anhu, lalu datang saudara Aisyah yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar dgn membawa siwak, lalu Nabi melihatnya maka dgn sigap Aisyah pun memahami akan keinginan Nabi, lalu Aisyah pun memberikan siwak tersebut, kemudian Nabipun bersiwak saat itu dengan tata cara yang bagus sekali....
Nabi kembali mengeluarkan perkataan nya : 
لا إله إلا الله إن للموت سكرات 
" Tidak ada yang berhak disembah melainkan hanya Allah, sesungguhnya setiap kematian ada sekaratnya"

Rasanya tidak kuat, gemetar, tatkala menuliskan saat-saat yang sangat menyedihkan ini...😪😪
Lalu di detik-detik terakhirnya beliau sudah tidak kuat lagi berbicara, tapi Aisyah mendengar dirintihan terakhirnya itu, 
مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين و الصديقين و الشهداء و الصالحين، اللهم اغفر لي و ارحمني و ألحقني بالرفيق ا?لأعلى ، اللهم الرفيق الأعلى 3
x
" (Ingin) bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para Nabi dan orang-orang yang Siddiq dan para syuhada dan orang-orang Sholeh. Ya Allah Ampuni aku, Rahmati aku dan kumpulkanlah dengan mereka yang punya kedudukan tinggi " kalimat 
اللهم الرفيق الأعلى 
ini diulang 3x.


Tercabutlah ruh beliau, lemaslah tangan beliau, dan beliau benar-benar berjumpa dengan mereka di tempat yang mulia sebagaimana doa terakhir beliau.

Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.....

Umat Islam kehilangan, langit Madinah Gelap Seketika, badan para sahabat melemas, seakan-akan tidak percaya.....

Tepat pada saat itu Hari Senin waktu Dhuha tgl 12 Rabi'ul Awwal 11 H (Ini adalah Ijma' Ulama)....
Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un
Semoga Allah mengumpulkan kami dengan beliau kelak di surgaNya....Aamiin

اللهم صل على نبينا محمد صلى الله عليه و سلم

Rabu, 22 Februari 2017

Ke Tanah Suci Tak Harus Kaya_1 ( Kisah Nyataku )



Oleh : Abu Yusuf Akhmad Ja’far

Perjalanan ke Tanah Suci adalah perjalanan yang diinginkan oleh semua orang yang beriman dan ini tidak bisa kita pungkiri, senakal-nakal orang apabila ditawari untuk pergi haji atau umrah pasti dia mau, ya begitulah fitrah manusia. Ketahuilah bahwa ka’bah dan apa yang di sekitarnya adalah pemandangan terindah setelah melihat wajah kedua orang tua. Dari tempat-tempat wisata di seluruh dunia, hanya disanalah ada ketenangan dan kebahagiaan. Banyak keutamaan yang telah ditetapkan oleh Syari’at untuk berkunjung kesana diantaranya adalah menunaikan ibadah haji dan umrah. Coba perhatikan dalil-dalil di bawah ini:

1. Allah Ta’ala telah menetapkan Mekkah sebagai kota suci, yakni sejak penciptaan langit dan bumi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari penaklukan kota Mekkah :
إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat “. (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekkah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Naml : 91)
Dengan seizin Allah, Mekkah akan tetap dalam perlindunganNya, dan menjadi negeri aman tenteram. Hal ini sebagai wujud Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Allah Ta’ala berfirman :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata : “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”. (QS. Ibrahim : 35)
Perlindungan Allah Ta’ala terhadap kota Mekkah, dan khususnya Ka’bah, telah dibuktikan. Sebagai contoh, Allah telah menjaga Ka’bah dari serbuan pasukan gajah pimpinan Raja Abrahah yang bertekad menghancurkannya.
2. Kota Mekkah, merupakan tempat yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terusir dari kota itu, niscaya beliau tidak akan meninggalkannya. Ini tercermin dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ
“Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)” (HR. Tirmidzi)
3. Shalat di kota Mekkah, terlebih di Masjidil Haram memiliki derajat nilai sangat tinggi, sebanding dengan seratus ribu shalat di tempat lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ
“Satu shalat di Masjidil Haram, lebih utama dibandingkan seratus ribu shalat di tempat lainnya”. [HR Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani]
Dengan keutamaan yang dimilikinya, Allah Ta’ala telah menetapkan hukum-hukum khusus berkaitan dengan kota Mekkah yang sarat dengan berkah ini. Beberapa hukum berkaitan dengan kota Mekkah, di antaranya :
a.       Orang kafir diharamkan memasuki kota Mekkah.
Allah berfirman dalam surat at Taubah ayat 28 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini …(tahun penaklukan kota Mekkah)” (QS. At-Taubah : 28)
Imam al Qurthubi berkata : “Diharamkan memberikan keleluasaan kepada orang musyrik untuk masuk tanah Haram. Apabila ia datang, hendaknya imam (penguasa) mengajaknya keluar wilayah tanah Haram untuk mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan. Seandainya ia masuk dengan sembunyi-sembunyi dan kemudian mati, maka kuburnya harus dibongkar dan tulang-belulangnya dikeluarkan”. (Lihat Tafsir Al-Qurtubi)
b.      Di kota Mekkah, siapapun dilarang berbuat maksiat.
Perbuatan maksiat di kota Mekkah, dosanya sangat besar daripada di tempat lain. Allah berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ ۚ وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih” (QS. Al-Hajj : 25)
Ayat ini, menurut penjelasan Syaikh as Sa’di, mengandung kewajiban untuk menghormati tanah Haram, keharusan mengagungkannya dengan pengagungan yang besar, dan menjadi peringatan bagi yang ingin berbuat maksiat.(Lihat Tafsir Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
c. Di tanah Mekkah diharamkan binatang buruan ataupun berusaha untuk mengejarnya, juga dilarang menebang pohon liar, memotong durinya, ataupun mencabut rerumputannya.
d. Barang temuan di tanah Haram tidak boleh diambil, kecuali bagi orang yang akan mengumumkannya selama-lamanya.
Dalil yang menunjukkan point (c) dan (d), yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
لَا يُعْضَدُ شَوْكُهُ وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهُ وَلَا يَلْتَقِطُ لُقَطَتَهُ إِلَّا مَنْ عَرَّفَهَا وَلَا يُخْتَلَى خَلَاهُ فَقَالَ الْعَبَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا الْإِذْخِرَ فَإِنَّهُ لِقَيْنِهِمْ وَلِبُيُوتِهِمْ قَالَ إِلَّا الْإِذْخِرَ
“Tidak boleh dipatahkan durinya, tidak boleh dikejar hewan buruannya, dan tidak boleh diambil barang temuannya, kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya, dan tidak dicabut rerumputannya. Al ‘Abbas berkata,”Kecuali rumput idkhir, wahai Rasulullah.” (Muttafaq ‘Alaihi)
Demikian keutamaan dan kemulian kota suci Mekkah dan sebagian hukum-hukum yang telah ditetapkan syari’at. Dengan mengetahui perkara ini, maka seorang muslim sudah semestinya bisa menjaga diri dari berbuat maksiat. Tidak menodainya dengan perbuatan-perbuatan terlarang.
Kisahku….`
Berikut ini adalah kisah perjalananku menuju ke Tanah Suci, untuk menunaikan ibadah Umrah yang akan berangkat besok Kamis, 23 Feb 2017 in syaa Allah. Berawal dari keinginan yang kuat untuk bisa menginjakkan kaki disana semenjak aku masih di Indonesia, tapi untuk kesana memang tidak mudah, harus melalui tahapan-tahapan yang sangat ketat, baik secara dokumen maupun kekuatan fisik dan juga biaya. Oh ya kenalan dulu, aku adalah Abu Yusuf Akhmad Ja’far, akrab dipanggil Ja’far atau Abu Yusuf dikalangan temen-temen. Saat ini aku menjalani pendidikan di salah satu Universitas Islam Tertua di dunia yaitu Universitas Al-Azhar Kairo fakultas Syariah Islamiyah, jadi otomatis saat ini aku sedang di Mesir semenjak bulan Agustus 2015 lalu dan belum merasakan lagi aroma kampung halaman di Indonesia selama kurang lebih 1 tahun setengah.

Hidup di Negara orang tentunya berbeda dengan hidup di Negeri sendiri, adapun perbedaanya banyak mungkin pada lain kesempatan aku ceritain deh, in syaa Allah.

Aku berasal dari keluarga yang sederhana, bapakku rahimahullahu sudah lama meninggal sekitar tahun 2009 lalu dan sejak itu tanggungan rumah tangga ada di punggung makku (ibuku). Perlu diketahui mak dan bapakku adalah seorang pekerja keras dari mulai pengantin baru, mereka berdua berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga untuk bisa memperbaiki kehidupan, ya harus kerja keras, buat makan aja susah apalagi buat lain-lain. Bapakku sendiri profesi aslinya adalah tukang buat kursi mebel sewaktu mudanya, ya maklumlah karena hanya lulusan SD, pekerjaan itu dijalani sampai setelah menikah dengan makku, yang pada akhirnya beliau berubah profesi karena suatu hal atau sebab lain yang aku kurang faham menjadi seorang sopir di pabrik kayu dan nyambi jualan baju dll, adapun makku adalah orang desa yang menikah dengan bapakku sehingga dibawa oleh bapakku ke pinggiran kota Pasurua- Jawa Timur. Pada awalnya makku tidak bekerja karena minim pengalaman dan beda bahasa juga, karena makku bahasanya Madura sehingga bahasa jawanya kurang terlalu bisa, tapi setelah beberapa waktu, makku bisa berjualan di SD Gentong (tempat sekolahku dulu), pekerjaan ini di tekuni sampai aku lahir pada tahun 1996, karena aku tidak ada yang merawat waktu itu, sedangkan nenek dan kakekku yang biasanya merawat aku sedang sibuk dengan urusannya. Dan akhirnya makku membuka toko kecil-kecilan dan nyambi jualan sayur-mayur serta lauk-pauk kalau pagi hari di rumahku. Oh ya, aku mempunyai 2 saudara kandung, kakak perempuan 1 (kelahiran tahun 1986, sudah menikah dan mempunyai anak 2) dan adek laki-laki 1 (kelahiran 1999 dan sekarang masih kelas 2 SMA) jadi kami tiga bersaudara, aku anak kedua.

Jadi intinya, setelah bekerja keras selama ini, orang tuaku punya beberapa rumah dan mobil butut, karena mobil adalah kebutuhan untuk pekerjaan bapakku. Jadi saat itu keluargaku tergolong keluarga yang sederhana dan cukup. Bahkan pada tahun 2003 kedua orang tuaku bisa pergi haji ke baitullah. Mungkin disitu puncak kesuksesan mereka berdua. Pada saat itu aku masih belum tahu apa-apa soal kerasnya kehidupan, karena dikala itu usiaku masih 7 tahun. Yang aku tahu, aku bisa sekolah dan maen.

Pada tahun 2007 bapakku mulai terserang sakit sehingga harus berobat dan pada akhirnya harus menjalani operasi, sempat sembuh beberapa saat tapi tidak lama kemudian beliau sakit kembali hingga sering sekali keluar masuk rumah sakit, baik itu dalam kota ataupun luar kota.sakit yang di derita pada awalnya adalah Usus Buntu, kemudian menjalan ke ginjal dan akhirnya komplikasi di berbagai organ tubuhnya. Pada saat itu keuangan keluarga tidak karuan, mobil terjual untuk biaya operasi, belum lagi perabotan yang lain juga habis bahkan sampai banyak hutang puluhan juta hanya untuk membiayai bapak diwaktu sakitnya, sampai pada puncaknya tahun 2009, bapakku (semoga Allah mengampuni dosa-dosanya) pergi untuk menghadap kepada Allah Ta’ala. Saat itu aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Rasa sedih sangat dalam yang kualami saat itu, bagaimana tidak, pada usiaku yang baru dewasa sudah harus hidup tanpa bapak, sehingga akulah yang menjadi penerusnya untuk menjaga keluargaku.

Akhirnya keadaan keluargaku seperti itu, tapi dalam kondisi seperti ini,emakku terus berjuang dan selalu sabar menghadapi kesusahan dalam memperjuangkan anak-anaknya serta melunasi semua hutang yang ditinggalkan oleh bapakku. Kondisi keluargaku sekarang tidak jauh berbeda dari keadaan seperti awal ditinggal bapak meninggal. Karena hutang-hutang itu belum terlunasi sampai saat ini, meskipun sudah ada sebagian yang sudah lunas.

Dibalik itu semua, Aku salut dan sangat menghargai perjuangan emakku buat anak-anaknya agar bisa tetap sekolah setinggi-tingginya, pahit manis telah kulalui semenjak kepergian bapak. Terkadang melihat orang yang bisa-bisa jalan-jalan bareng, liburan bersama bapaknya dan keluarganya, minta duit ke bapaknya, aku suka sedih dan kadang sampai meneteskan air mata. Rasa iri itu ada, tapi apalah daya. Aku hanya bisa sabar menghadapi ini semua.

Lihat cerita lebih lengkap di website :


Cerita singkatnya, aku sekarang sedang di Mesir seperti yang aku katakan tadi, awalnya untuk kesini aku terkendala oleh biaya yang sangat mahal sebesar 14 juta rupiah. Memang rencana Allah dan pertolongannya itu indah, aku berhasil memperoleh uang sebesar itu dari muhsinin yang bergabung di suatu lembaga umum yang bergelut di bidang social dakwah di daerah Bekasi, sebut saja nama yayasan itu Sahabat Yamima, bisa di lihat di fecebook dan you tube. Aku memperoleh bantuan itu melalui perantara guru/dosenku Ust. Syarif Mahya Lubis sewaktu kuliah di L-SIA Bekasi selama kurang lebih 1 tahun dengan membawa pulang gelar D1. Beliau punya hubungan baik dengan lembaga itu sehingga Allah menyalurkan bantuan-Nya  melalui tangan-tangan mereka (semoga Allah menjaga mereka semua terutama direktur Sahabat Yamima, Pak Rizal Abu Fathi).

Ketahui bahwa kehidupan di Mesir tidaklah mudah, apalagi bagiku seorang yang tak punya biaya untuk kuliah tapi nekat untuk bisa tetap kuliah. Saat awal-awal di Mesir, banyak sekali biaya yang harus aku keluarkan untuk bayar sewa rumah, bayar biaya SPP sewaktu di Markas Lughah dll. Saat itu uang sakuku yang kudapat dari muhsinin dan tetangga-tetanggaku bisa mencukupi untuk bayar itu , akan tetapi hanya untuk 2 bulan pertama. Tapi untuk bulan-bulan berikutnya aku sudah tidak punya uang sama sekali. Alhamdulillah pada saat itu yayasan Sahabat Yamima masih mengirim uang kepadaku setiap bulan dengan nominal yang menurutku lumayan besar, tapi ternyata hal itu belum mencukupi untuk biaya SPP dan segala macam kebutuhan sehingga mau tidak mau aku harus bekerja, Ya bekerja.

Tepat 4 bulan setelah kedatanganku di Mesir aku kerja di salah satu rumah makan Indonesia yang ada disini, awalnya sih seminggu sekali kerjanya, lama-lama jadi 2 hari selama seminggu. Gajinya memang tidak seberapa, tapi minimal ada pemasukanlah, kira-kira begitu. Bahkan yang lebih menyentuh dan tidak akan kulupakan selama hidupku, bahwa aku selalu gajian di depan (awal bulan), karena memang pada awal bulan harus bayar sewa rumah dan SPP di markas lughah sehingga pada akhir bulannya aku hanya dapat sisa gaji yang hanya bisa buat beli indomie 3, bahkan kadang mines.

Ditengah kesibukan kuliah markas lughah, tahfidz, dll aku harus kerja. Ya minimal bisa untuk lanjut kuliah dan bisa makan karena itulah kebutuhan utamaku, aku bukun tipe orang yang boros bahkan bisa dibilang ngirit (hemat). Bahkan aku pernah punya hutang yang banyak sekali sama temen. Tapi lama-lama habis juga hutangnya, meskipun sampai saat ini masih gali lobang tutup lobang.

Kesusahanku diatas hampir semua tidak aku ceritakan sama orang tua, karena aku tidak mau membuat emakku kepikiran. Karena aku lelaki yang masih punya kekuatan untuk membiayai kehidupanku sendiri, maka aku rela mengorbankan banyak waktu untuk mencari uang, meskipun sangat capek, tapi aku berusaha sabar untuk menghadapi semua itu. Aku yakin suatu nanti aku akan sukses, karena kesuksesan membutuhkan pengorbanan.

Aku bekerja di rumah makan selama (kurang lebih) setengah tahun, dari situ aku mendapatkan banyak pengalaman dan relasi yang sangat banyak. Pada bulan Mei 2015 aku lulus kuliah di markas lughah dan pada saat itu aku memutuskan untuk berhenti kerja di rumah makan tersebut (karena kalau sudah masuk di Univ. Al-Azhar nanti tidak ada biaya SPP), disisi lain banyak menghabiskan waktu, capek juga. Bayangkan saja, kerja dari jam 12.00 atau 12.30 sampai jam 23.00 malam, sedangkan paginya kuliah. Ya begitulah pengalaman yang telah aku jalani. Belum lagi saat itu musim dingin sehingga harus berjuang untuk melawati masa-masa itu.

Sebelum aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan di rumah makan, aku sudah mempunyai sampingan lain yang bisa menopang hidupku, yaitu membuka jasa penukaran uang asing. Pekerjaan ini sampai saat ini aku tekuni. Sebenarnya aku tidak mempunyai modal untuk bisnis itu, karena hasil kerja dan kiriman dari yayasan sudah habis buat baiaya SPP selama kurang lebih 5 tingkat, yang ditempuh selama (kurang lebih) 8 bulan. Tapi aku tidak kehabisan akal, aku tawari saja temen-temenku yang punya uang lebih untuk ngasih modal kepadaku, lalu kita bagi hasil (system mudharabah). Dari sini mulai membaik sisi ekonomiku, minimal tidak harus kerja berjam-jam untuk mendapatkan gaji 50-60 pound (dulu sekitar 100 rb rupiah).  

Selain waktuku sangat berharga kalau harus bekerja berjam-jam tapi hasilnya sama dengan bekerja yang memakan sedikit, aku putar otak sehingga bisa bekerja dengan mudah dan menghasilkan uang yang sama bahkan lebih per hari waktu yang hanya bermodal hp dan sedikit kelincahan dalam tawar-menawar. Kira-kira begitulah perjalananku. Sehingga waktuku untuk bertalaqi/menghadiri pengajian bersama para masyayikh sangat banyak.

Pada bulan Oktober 2016 aku resmi menjadi Mahasiswa Al-Azhar Kairo, setelah melewati masa-masa kuliah di markas lughoh yang memakan biaya sangat banyak.

Keinginanku untuk ke Tanah Suci sangatlah kuat….!!
Sambil terus berdoa di dalam sujud dan waktu-waktu mustajab untuk bisa pergi ke tanah suci, aku terus berusaha. Sebelum keberangkatanku banyak sekali ujian dan tantangan yang aku hadapi. Tapi selama itu pula aku bersabar, karena aku yakin bahwa suatu saat nanti aku bisa berangkat, bukan karena aku kaya atau banyak duit, tapi murni karena panggilan Allah Ta’ala.

Bayangkan saja, beberapa bulan ini bisnisku kesendat karena kurs dollar dan pound naik turun sehingga aku mengalami kerugian besar sebanyak ribuan pound beberapa saat itu, meskipun pada akhirnya bisa tercover juga kerugian itu, tentunya dengan perjuangan yang berat. Tapi niat dan doa terus kupanjatkan kepada Allah agar selalu mempermudah langkahku untuk memenuhi panggilannya.

Uangku yang ku sisikan dari keuntungan kerjaku sangat mepet buat daftar umrah, tapi aku yakin nanti ada rezeki lagi dari Allah. Akhirnya aku memberanikan diri untuk daftar, dengan hanya menyerahkan paspor dan surat keterangan dari KBRI untuk pengurusan visa, yang akan dilakukan di Indonesia. Beberapa hari setelah itu pasporku  sudah sampai di Indonesia yang dibawa pulang oleh temen untuk diurus visanya.

Cemas menunggu, cobaan demi cobaan menimpaku, salah satunya yaitu hpku hilang, yang mana disitu banyak sekali hal-hal penting, apalagi masalah bisnisku. Tapi apalah daya, mungkin ini cobaan yang mau tak mau harus kuterima, toh sebagai aplikasi mengimani adanya takdir yang buruk.

Semalaman tidak bisa tidur karena kepikiran hp, tiba-tiba pagi hari dikabarkan bahwa visa turun. Aku seneng banget meskipun di sisi lain sedih karena artinya aku harus segera membayar uang umrah itu sebanyak 450$ (sekitar 7 juta rupiah), sedangkan duitku kurang, ditambah lagi buat beli hp, yang mana hp bagiku suatu hal yang urgent, ya untuk bisnis dan berbagi ilmu dengan temen-temen di Indonesia. Tapi saat itu adalah masa-masa gentingku, sehingga  aku yakin dan terus  berdoa kepada Allah agar memberi jalan keluar, akhirnya aku telpon ke emakku di Indonesia mengabari hal ini, awalnya ingin minta bantuan tapi akhirnya tidak bisa karena keadaan keluarga di Indonesia juga memprihatinkan. Makku nangis saat itu, karena tidak bisa membantu aku. Tapi aku hanya minta di doakan saja oleh makku agar diberi jalan keluar.

Pada waktu pembayaran aku harus minjem uang teman dulu, karena saat itu benar-benar genting dan mepet. Tapi minjemnya juga tidak banyak. Yang terpenting sudah terbayar saat itu aku sudah lega.

Singkat cerita, Setelah beli hp bekas dengan harga yang murah, aku bener-bener tidak punya uang, entah darimana uang sakuku nanti buat bekal disana ?, ah sudahlah aku tidak terlalu berfikir hal itu, yang penting aku terus berdoa agar ada rezeki lagi buat pegangan nanti.

Allah Ta’ala mulai menunjukkan kebesarannya, tepat beberapa hari sebelum aku berangkat, rezeki itu ada saja yang datang, tiba-tiba dapat kiriman dari Yayasan sebanyak 1 juta, lalu diberi muhsinin di Mesir melalui Ust. Syakir sebayak 1400 pound (kira-kira 1 jut lebih), belum lagi yang di kasih Syaikh Wahid bin Abdissalam Bali beberapa ratus pound. Sungguh ini seperti mimpi, sampai air mataku menetes saat menerima itu semua. Tidak lepas-lepas aku memuji Allah Ta’ala dan bersyukur atas bantuannya yang benar-benar tidak aku sangka. Oleh karenya aku berkesimpulan bahwa pergi ke Tanah suci tidak harus kaya raya nunggu uang numpuk, karena memang unutk pergi kesana adalah murni panggilan dari Allah Ta’ala. Semoga Allah memeberi keberkahan di perjalanan nanti.

Sebelum berangkat air mataku sering menetes karena mengingat betapa besar nikmat Allah yang diberikan padaku. Sekarang aku sudah menjadi pelaku dari scenario Allah yang sangat hebat dan tidak disangka-sangka. Dan juga karena sudah sangat rindu untuk segera melihat ka’bah dan beribadah disana, mengumandangkan talbiyah dan melakukan syi’ar-syi’ar Umrah yang lainnya.

Semoga siapa saja yang membaca ini ataupun yang tidak membaca ini, bisa pergi ke Tanah suci untuk mekakukan Ibadah Haji maupun Umrah.

Inilah sebuah cerita singkat yang bisa kutuangkan disini, semoga memberi kita motivasi dan semangat untuk bisa pergi ke Tanah Suci.

Simak kisah selanjutnya tentang perjalanan saat Umrah…!!


Silahkan bagi yang mau sharing atau urusan apapun dengan aku, bisa langsung hubungi nomer WA : +201069600655. Semoga bermanfaat.





Ditulis semalam sebelum keberangkatan dari Kairo menuju Madinah Al-Munawwarah.

.