HOME

Rabu, 08 April 2020

Ke Madinah, Apa Yang Kamu Cari?



Oleh : Abu Yusuf Akhmad Ja’far


                Nasehat dari Dr. Emha Hasan Ayatullah, MA Hafidzahullah Ta’ala

            Judul yang sangat menarik bagi mahasiswa baru yang baru saja menginjakkan kakinya di Kota Nabi tercinta salallahu alaihissalam. Kali ini pihak PPMI mengundang Ust. Emha Hasan Ayatullah, MA (Mahasiswa Doktoral bidang Hadist) untuk memberikan penyemangat sekaligus berbagi pengalaman beliau yang sudah 15 tahun menimba ilmu di Kota Nabi ini.

Tepatnya Ba'da Magrib acara di mulai di Masjid Bin Baz (dalam kampus UIM) Adapun nasehat yang beliau sampaikan, kami rangkum secara singkat berikut ini,

Pertama : Beliau ucapkan terima kasih kepada ppmi madinah atas segala jerih payah nya memfasilitasi kegiatan ini, ini merupakan hal yang patut kita syukuri. Karena tidak semua tulab dari setiap negara dapat bimbingan seperti yang di lakukan ppmi madinah.

Kedua : Selamat datang di Kota Nabi Dari semua mahasiswa yang di terima tahun ini 160 an (yang sudah sampai ke kota Nabi) , ana berharap dari antum, mudah mudahan semuanya atau sebagian besar pulang ke Indonesia menjadi dai-dai yang menyerukan kepada ajaran sunnah yang murni.

Keadaan umat tidak lepas dari dua hal, dikatakan oleh Syaikh Abdussalam Barjas Rahimahullah Ta'ala
1. Banyak kebodohan
2. Banyak sekali Pemikiran sesat Tantangan di Indonesia sangat luar biasa, banyak sekali penyimpangan yang sangat besar, tapi dianggap bukan penyimpangan. Bahkan belakangan ini ada seorang doktor menghalalkan zina, waliyadzubillah billah.

Ini tugas kita semua untuk menjelaskan kepada umat, minimal kita lawan dengan title juga. Betapa banyak orang bertitle di Masjid masjid besar tapi baca Al-Quran saja kalah sama antum ketika Sma dulu di pondok.

Tanggung jawab kita ini besar Dunia dan Akhirat Nabi salallahu alaihissalam mengatakan
لا يأتي زمان إلا التي بعده شر منه
“Tidaklah Datang sebuah zaman, Kecuali yang setelah nya lebih buruk”
Ibnu hajar ingin mencari makna atau tafsir yang pas dari sabda Nabi ini, apakah pemimpin nya yang kurang adil? Ternyata tidak, ada yang lebih bagus setelah nya. Berarti bukan itu tafsirnya. Aku menemukan tafsir yang pas, yaitu Sebagaimana perkataan Ibnu Mas'ud " zaman dimana ilmu lebih sedikit"

Kita harapkan antum untuk tidak main-main disini. Kita harus berusaha, Serius, Fokus dan sungguh-sungguh. Agar langkah belajar kita senantiasa terjaga. Ada sebuah atsar buat renungan kita.
Salman Al-Farisi berkata:
 المدينة لا تقدس أحدا و إنما يقدس المرء عمله
"Kota Madinah Tidak mensucikan orang, akan tetapi yang mensucikan orang adalah amalannya".
Kita belajar di madinah bukan berarti langsung jadi Syaikhul islam. pulang pulang lalu jadi mufti, tidak ya ikhwah. bahkan ada ketika pulang ke Indonesia malah bikin keonaran. Allahu Mustaan
Makanya tugas kita ini bertambah, bukan malah selesai ketika antum sudah sampai sini. Sungguh nikmat dunia akhirat belajar di Madinah. 

Ingat beberapa point berikut ini

Point Pertama : Bagi waktu yang baik ketika di madinah Ketika musim panas dan musim dingin berbeda pembagian waktunya. Karena malam lebih panjang ketika musim dingin, adapun musim panas malam nya sebentar. Pandai-pandailah mengatur.
Misal : ketika musim dingin, antum jangan tidur kecuali setelah jam 12 malam. Waktu sebelum jam 12 malam gunakan untuk belajar. Perhatikan skala prioritas Hal paling wajib bagi kita disini adalah masuk kuliah. Jangan sampai menyibukkan sesuatu yang bukan wajib, hingga yang wajib ketinggalan ataupun terbengkalai.
 من شغله الفرض عن الندب معذور
"sibuk dengan wajib atas sunnah ini dimaklumi" , Tapi kalau,
من شعله الندب عن الفرض محروم
"sibuk dengan sunnah atas yang wajib ini tertipu/keliru"

Contoh memilih kegiatan tambahan : Talaqqi / menghafal mutun / belajar bareng teman. Jika talaqi pilih yang bersama ulama kibar, ketika belajar bareng pilih di Masjid Nabawi Dalam belajar antum tidak lepas dari 3 hal
1. Menghafal -rugi kalau tidak menghafal, tentunya setelah menghafal Al-Quran adalah menghafal hadist dan hal yang penting lainnya. Jangan mubadzirkan otak antum, mumpung masih muda.
2. Membaca Usahakan baca semua muqoror antum habiskan semua selama satu semester. Ini minimal kalau emang males baca. Tapi kalau bisa targetkan dalam membaca, kalau bisa sehari 20 halaman lebih, agar banyak kutub yang antum telaah.
3. Duduk di majelis Kibar Syaikh Inilah yang menjadi ciri khas belajar di Madinah. Kalau antum tidak hadir di majelis Syaikh, maka tidak ada bedanya antum dengan kuliah di Jakarta. Pilih satu Syaikh minimal untuk di tekuni, tuntunya Syaikh yang kibar, semisal Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily, Syaikh Sholih Ash-Shuhaimi, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily dan yang lainnya. Point kedua : Pilih kawan yang baik dan shalih Hati-hati dengan kakak kelas yang akan mempengaruhi hal yang tidak baik. Pilih kawan yang mendorong antum untuk belajar, kuliah dan datang majelis Syaikh di Masjid Nabawi.

Beda, antara komunitas yang rajin kuliah dengan yg sering bolos.
Beda, antara komunitas yang setiap hari ke harom dengan yang tidak. Semua ada di jamiah komunitas diatas.
Bikin kaidah buat diri antum : "Setiap hari harus ke Masjid Nabawi kecuali Udzur syari" Jangan habiskan waktu untuk Internet, buka hp dll jika tidak penting.

Point Akhir : Berdoa dari sekarang untuk bisa diterima di S2 dan selalu berdoa agar dapat Taufik dari Allah selama belajar di madinah. Banyak orang yang tidak sukses dalam belajar, Ada yang di DO (drop out) karena rosib. Banyak yang rosib karena banyak maen game bukan karena ketidakmampuan. Jangan sungkan untuk berteman dengan orang-orang yang mumtaz , baik itu nilainya dan ibadah nya. Jangan berteman dengan orang yang mumtaz di nilai/IPK saja, tapi ibadah nya rosib (misalnya subuhnya di waktu dhuha berkali-kali dan jarang sholat jamaah) .
Demikian rangkuman yang bisa kami tulis Mohon Maaf jika ada kekurangan.
Semoga bermanfaat.

 _Abu Yusuf _


0 komentar:

Posting Komentar